TUGAS, PERAN, DAN KEPRIBADIAN PELATIH

TUGAS, PERAN, DAN KEPRIBADIAN PELATIH
            Gelar “coach” atau “pelatih” adalah gelar atau sebutan yang memancarkan rasa hormat, respek, status, tanggung jawab. Gelar coach seringkali bisa berlanjut meskipun tugas sebagai coach sudah usai. Sekali kita coach, selamanya kita adalah coach bagi atlet kita, bagi rekan, bagi masyarakat.
            Atlet menggap bahwa seorang pelatih adalah ahli dalam segala hal dan pandai memainkan berbagai peran. Dan banyak atlet yang ingin seperti pelatihnya kalau dia kelak menjadi pelatih. Meskipun ada juga yang tidak, dan bersumpah tidak akan berbuat seperti pelatihnya dulu. Akan tetapi ada yang diperoleh dari pelatih dan akan senantiasa  membekas pada atlet.
            Tugas seorang pelatih jauh lebih luas dari sekedar di lapangan saja. Dia juga adalah seorang guru, pendidik, bapak, bahkan teman sejati. Sebagai guru dia disegani, sebagai bapak dia dicintai, sebagai teman sejati dia dapat dipercaya dan dapat merupakan tempat untuk mencurahkan isi hati. Seorang coach itu senantiasa menjadi seorang pendidik dan seorang guru, sedangkan seorang guru belum tentu selalu seperti seorang coach. Seorang coach mencerminkan manusia yang bagaimana anak didiknya tumbuh dan berkembang di bawah asuhannya.
            Di bawah ini akan diuraikan beberapa tugas utama, peran, dan kepribadian pelatih, termasuk kode etik pelatih yang perlu diperhatikan oleh para pelatih.
1.      Perilaku. Pertama-tama, perilaku serta tabiat seorang pelatih haruslah bebas dari cela dan cerca. Dia harus selalu ingat bahwa baik anak-anaknya maupun masyarakat sekitar memandang dirinya sebagai seorang model. Hampir setiap gerak pelatih akan diamati oleh talet maupun oleh masyarakat. Atlet-atlet, terutama yang masih muda, sering kali mengidentifikasikan dirinya dengan perilaku dan tabiat peltihnya. Sikapnya, dan caranya berbicara sering kali merupakan duplikat dari pelatihnya. Oleh karena itu personalitas yang baik harus senantiasa tercermin pada seorang pelatih.
2.      Kepemimpinan. Pelatih harus merupakan seorang individu yang dinamis, yang dapat memimpin dan dapat memberikan motivasi kepada anak-anak asuhannya maupun kepada para pembantunya. Dia juga diaharapkan dapat bekerjasama dan bergaul dengan orang banyak, menyelami isi hati mereka, dapat mengeluarkan pendapat-pendapat dan pandangan-pandangannya secara jujur dan terbuka. Diapun harus dapat mengerti, menerima dan memperkembangkan pandangan-pandangan serta pendapat-pendapat orang lain.keputusan-keputusan serta sikapnya harus tegas, tidak meragukan, apalagi mencurigakan. Seorang coach yang baik akan juga selalu memperlihatkan kewibawannya sebagai seorang pemimpin dan sifatnya sebagai seorang gantelma, meskipun regunya berada dalam keadaan kritis.
3.      Sikap sportif. Seorang coach harus pula mencerminkan contoh dari sportivitas yang baik, karena itu pelatih harus pula mengajarkan sikap sportif kepada para atletnya. Mengajarkan sikap sportiv bukan berarti bahwa para atlet tidak boleh bermain keras, fors. Atlet tetap dilatih untuk bermain fors dan berjuang sebaik-baiknya, akan tetapi dengan cara-cara yang jujur dan sportif (fair).
4.      Pengetahuan dan keterampilan. Seorang pelatih harus harus mempunyai pengetahuan serta mempunyai keterampilan terhadap cabang olahraganya, baik segi tekni, taktik, peraturan pertandingan, sistem-sistem latihannya, maupun segi penyerangan atau pertahanannya adalah mutlak harus dikuasai oleh seorang pelatih.
5.      Imajinasi. Seorang pelatih yang baik ialah orang yang mempunyai daya imajinasi yang konstruktif tentang cabang olahraganya. Daya imajinasi ini penting dimilikinya oleh karena taktik-taktik pertahanan dan penyerangan suatu permainan dari hari ke hari makin berkembang dan makin rumit. Demikian pula metode-metode latihan yang makin lama makin canggih dan semakin efisien dan efektif. Oleh karena itu, biasanya pelatih yang lebih kuat daya imajinasinya dan daya kreasinya akan lebih berhasil dalam membentuk tim yang tangguh.
6.      Ketegasan dan keberanian. Coach harus berani bila mana perlu mengganti kapten regu atau pemin ulung dengan pemain lainnya yang meskipun kurang baik pada saat itu.
7.      Humor. Suatu sifat yang tampaknya remeh akan tetapi yang sering pula ikut menentukan sukses tidaknya seorang pelatih adalah sense-nya atau citarasanya akan humor. Banyak atlet yang berpendapat bahwa humor adalah sifat yang terpenting dimiliki seorang pelatih. Kemampuan untuk membuat orang lain mearasa relax dengan jalan memberikan humor atau lelucon yang sehat dan menyegarkan dan merupakan faktor penting guna mengurangi ketegangan dan membangkitkan optimisme baru, baik dalam latihan maupun sebelum dan sesudah pertandingan.

Itulah beberapara uraian tugas utama, peran, dan kepribadian pelatih, termasuk kode etik pelatih yang perlu diperhatikan oleh para pelatih.
Selamat menerpakan pada diri masing-masing.

PJKR ‘KAMI SATU KAMI KELUARGA’.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JENIS-JENIS MEDIA MASSA DAN KOMUNIKASI MASSA

PORSENITAS 6 KUNCI BERSAMA CABOR BOLA BASKET